Rabu, 29 April 2015



PENDIDIKAN TINGGI GEODESI DI INDONESIA


Pada tanggal 18 Februari 1949, Direktur Jawatan Pendaftaran Tanah (Kadaster) yang bernaung di bawah Kementerian Kehakiman menyampaikan suatu pernyataan kepada Fakultet Ilmu Pengetahuan Teknik Universitas Indonesia (Fakulteit der Technische Wetenschappen van de Universiteit van Indonesia) di Bandung, untuk memperlajari kemungkinan diselenggarakannya pendidikan ahli ukur (surveyor, landmeter) sebagai sub bagian dari Bagian Sipil, untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli ukur tingkat universiter pada Jawatan Pendaftaran Tanah.

Berdasarkan permintaan Direktur Pendaftaran Tanah tersebut, Fakultet Teknik membentuk Komite pada tanggal 12 Maret 1949 yang terdiri atas:

       Prof. Dr. K. Posthumus (Guru Besar Kimia), Dekan Fakultet Teknik
       Prof. Ir. Jac. P. Thijse, Guru Besar Perencanaan dan Arsituktur, Fakultet Teknik
       Prof. H.A. Brouwer, Guru Besar Surveying Bagian Teknik Sipil

Laporan Komite dibahas pada sidang Fakultet tanggal 13 April 1949. Usul Komite untuk mengembangkan pendidikan insijur Geodesi dengan lama studi lima tahun seperti halnya di negara lain, khususnya di Technische Hoogeschool (TH) Delft, akhirnya diterima oleh Fakutet Teknik, dan meneruskannya ke Dewan Pimpinan Universiteit (Board of Governors of Universitet of Indonesia). Lokasi pendidikan diinginkan yang dekat dengan Bagian Sipil Fakultet Teknik agar memungkinkan untuk melakukan kerjasama antara Bagian Sipil dan Bagian Geodesi di masa mendatang.

Pada laporan, Komite juga meminta perhatian khusus untuk pengembangan fotogrametri, sebab kebutuhan pendidikan pada subyek fotogrametri akan sangat penting untuk Indonesia. Pendidikan Tinggi Geodesi di Indonesia diadakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli ukur pada Jawatan Pendaftaran Tanah. Pada tahun lima puluhan diperlukan 30 ahli ukur untuk menggantikan Kepala-Kepala Kantor Kadaster bangsa Belanda yang meninggalkan Indonesia, dan dalam waktu 10 tahun berikutnya dibutuhkan lagi sejumlah 30 ahli ukur. Jawatan Topografi Angkatan Darat juga memerlukan sejumlah 10 orang insinyur Geodesi dalam periode yang sama. Kebutuhan tenaga ahli ukur juga dirasakan pada Jawatan Pekerjaan Umum, Jawatan Kehutanan, dan perusahaan swasta.


Pada tahun akademik 1950-1951 (1 September 1950) pendidkan Geodesi dimulai di Bandung pada Fakultet Ilmu Pengetahuan Universitas Indonesia. Mahasiswa angkatan pertama Bagian Geodesi ITB berjumlah 13 orang terdaftar dan 1 orang pendengar. Pada angkatan pertama tersebut antara lain Jacub Rais (Guru Besar ITB, Kepala Bakosurtanal kedua), Pranoto Asmoro (Mayor Jenderal TNI-AD, Kepala Jantop TNI-AD ketiga dan Kepala Bakosurtanal pertama), Josep Soenarjo, mahasiswa pendengar (Kolenel pada Jantop TNI-AD, Guru Besar ITB). Pimpinan Bagian Geodesi dipegang oleh Prof. H.A. Brower.


*) 50 Tahun Pendidikan Tinggi Geodesi di Indonesia, Hadwi Soendjojo, Penerbit ITB (Tahun 2000)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar