Kamis, 06 April 2017



SERTIFIKASI PRODUK INFORMASI GEOSPASIAL


Informasi Geospasial merupakan informasi strategis yang menjadi dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pengambil keputusan dalam pembangunan guna memelihara kelestarian sumberdaya dan kesimbangan lingkungan hidup. Pembangunan diselengarakan secara berkesinambungan antar sektor, setiap sektor membutuhkan data dan infomasi yang bersifat mendasar dan data serta informasi yang bersifat sektoral. Makin meningkatnya kebutuhan akan data dan informasi geospasial dalam Pembangunan Nasional mendorong pembuatan data dan informasi geospasial oleh berbagai pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun swasta.

Kualitas data dan informasi geospasial merupakan hal yang sangat penting terkait dengan pemanfaatan dan penggunaan data dan informasi geospasial. Kualitas data dan informasi geospasial adalah ukuran perbedaan antara data dan informasi geospasial dengan kondisi riilnya dari objek atau fenomena yang direpresentasikannya. Jadi apabila suatu data atau informasi geospasial memiliki kualitas yang rendah, artinya data atau informasi tersebut hanya memberikan informasi yang sedikit dari objek atau fenomena yang direpresentasikannya. Kualitas data atau informasi yang rendah akan memberikan informasi yang kurang akurat sehingga pemanfaatannya dalam analisis spasial atau pengambilan keputusan akan memberikan hasil atau keputusan yang kurang akurat.

Setiap produk yang dihasilkan mempunyai persyaratan produk yaitu sebuah persyaratan yang berhubungan langsung dengan produk, ditentukan dalam standar atau regulasi teknis yang disyaratkan oleh produsen atau pembeli, dan diidentifikasi oleh skema sertifikasi. Persyaratan dalam standar ini adalah persyaratan yang umum digunakan dengan tidak menutup kemungkinan diperjelas/ditingkatkan untuk penggunaan pada industri tertentu, termasuk produk yang berkaitan dengan keselamatan, keamanan dan lingkungan. 

Sertifikasi produk adalah pemberian jaminan tertulis dari pihak ketiga independen bahwa suatu produk beserta proses yang mendukungnya telah memenuhi persyaratan produk, atau dengan kata lain sertifikasi produk adalah:
-   proses atau kegiatan yang dilaksanakan oleh pihak ketiga yang terpercaya (Lembaga Penilaian Kesesuaian Produk - LPKPro) dan telah diakreditasi untuk menyatakan bahwa suatu produk telah memenuhi persyaratan teknis tertentu.
-       pemberian asesmen dan penetapan pihak ketiga yang imparsial bahwa pemenuhan persyaratan  yang ditetapkan telah diperagakan.
-     kegiatan penilaian kesesuaian yang dibangun untuk memberikan  kepercayaan konsumen, regulator, industri dan pihak lain yang berkepentingan bahwa produk memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
Sertifikasi yang ditujukan untuk suatu produk, perlu dilakukan terlebih dahulu pengecekan standar produk tersebut, apakah sudah atau belum ada di daftar SNI, jika belum ada standar terkait, maka belum bisa dilakukan sertifikasi produk.

Adapaun tujuan sertifikasi produk, proses atau jasa adalah:
-         untuk memenuhi kebutuhan konsumen, pengguna, dan secara umum, semua pihak yang berkepentingan
      atas jaminan pemenuhan persyaratan yang ditentukan;
-  untuk digunakan oleh pemasok guna memperagakan kepada pasar bahwa produk pemasok telahmemenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh lembaga pihak ketiga yang imparsial.

Sertifikasi produk mempunyai manfaat sebagai berikut:
1.    pemastian dari pihak ketiga independen bahwa produk dihasilkan melalui pengujian, pengendalian dan pengawasan yang efektif;
2.     konsumen terlindungi untuk mendapatkan produk bermutu;
3.     produk telah memenuhi persyaratan standar bagi produk wajib SNI;
4.     meningkatkan daya saing terhadap produk nonstandar;
5.     meningkatkan efisiensi melalui penerapan sistem mutu yang efektif.

Sertifikasi Produk Informasi Geospasial

Kualitas data merupakan konsep yang berkaitan dengan ketidakpastian. Sebelumnya kualitas data hanya terhubungkan dengan proses produksi peta hingga proses kartografi, dimana kualitas ini merepresentasikan keakuratan geometrik (positional accuracy) dan akuran atribut (attribute accuracy) pada saat produksi hingga menjadi peta sebagai produk akhir. Dengan berkembangnya produk peta menjadi data dan informasi geospasial, dimana representasi dari data dan informasi geospasial yang disampaikan kepada pengguna dapat berupa peta analog atau peta digital, baik berupa sebuah data, sebuah dataset, sebuah serial dataset, atau sebagian (subset) dari sebuah data, menimbulkan kebutuhan akan informasi kualitas kesesuaian untuk melakukan transfer data dan informasi geospasial.

Proses evaluasi kualitas data atau informasi geospasial dapat dilakukan dengan proses quality control (QC) dan/atau quality evaluation (QE). Kedua proses tersebut berujung pada proses quality assurance (QA) yang merupakan kumpulan aktivitas yang bertujuan untuk memastikan proses pengembangan suatu produk berjalan dengan baik. Proses QC dilakukan untuk menjamin proses produksi data dan informasi geospasial memenuhi kaidah akademik dan standar kualitas, sedangkan proses QE bertujuan untuk menakar kualitas atau menakar keakuratan data dan informasi geospasial terhadap spesifikasi atau standar, sehingga dapat menyimpulkan derajat kualitasnya. Proses QE dapat dilakukan pada saat produksi ataupun terhadap produk data dan informasi geospasial.

Jika mengacu pada UU Nomor 4 tahun 2011 tentang Informasi Geospasial maka produk Informasi Geospasial meliputi antara lain:
           Jaring Kontrol Horisontal Nasional (JKHN)
           Jaring Kontrol Vertikal Nasional JKVN)
           Jaring Kontrol Gayaberat Nasional (JKGN)
           Peta Rupabumi Indonesia (RBI)
           Peta Lingkungan Pantai Indonesia (LPI)
           Peta Lingkungan Laut Indonesia (LLI)
           Peta Tematik
           Atlas
Diluar peta-peta tersebut diatas, ada jenis peta yang dihasilkan untuk keperluan pekerjaan pembangunan infrastruktur seperti peta topografi skala besar, dan juga ada Atlas Sekolah dan peta publikasi (peta wisata) yang diterbitkan oleh pihak swasta.

Mutu (kualitas) produk dalam kerangka ISO 9000 didefinisikan sebagai “ciri dan karakter menyeluruh dari suatu produk yang mempengaruhi kemampuan produk tersebut untuk memuaskan kebutuhan tertentu”. Hal ini berarti bahwa harus dapat diidentifikasi ciri dan karakter produk yang berhubungan dengan mutu, dan kemudian dibuat suatu dasar tolok ukur serta cara pengendaliannya. Definisi di atas jelas menekankan pada kepuasan pelanggan atau pemakai produk; adapun pihak yang memiliki kepentingan dalam sertifikasi produk termasuk:
-       pelanggan dari lembaga sertifikasi;
-       pelanggan dari organisasi yang produk;
-       proses atau jasa yang disertifikasi;
-       otoritas kompeten (pemerintah);
-       organisasi non-pemerintah, dan konsumen dan anggota masyarakat lainnya.

Cara evaluasi data dan informasi geospasial terhadap peta atau produk informasi geospasial yang telah dihasilkan dari suatu proses pembuatan peta, digunakan untuk melakukan evaluasi dengan metode quality assurance (QA), atau juga dapat dengan melakukan quality assessment (QA) yang mencakup review atau penilaian dari pihak ketiga  mengenai setiap mutu produk informasi geospasial yang dihasilkan oleh pembuat informasi geospasial yang memberikan jaminan mutu (QA-quality assurance). Produk informasi geospasial yang sudah dievaluasi, elemen kualitas yang akan digunakan oleh pengguna (user) disebut kualitas external (external quality) yang berkaitan dengan tingkat keakuran data yang diproduksi dengan kebutuhan pengguna.

Kegiatan Penjaminan Kualitas (Quality Assurance) IG ditekankan kepada penjaminan kualitas terhadap IG. Pada implementasinya, QA didefinisikan sebagai penilaian kualitas berdasarkan standar eksternal untuk proses, dan QA meninjau kegiatan pada proses QC untuk memastikan bahwa produk akhir memenuhi standar kualitas (Taulbee, 1996). QA terbagi menjadi dua macam, yaitu:

QA – Production Line 
Penjaminan kualitas produk sesuai dengan proses kontrak dimana hasil akhirnya berupa pernyataan bahwa produk dijamin/tidak dijamin memenuhi standar yang ditetapkan dalam kontrak. Penjaminan kualitas berbasis garis produksi (QA – Production Line) menggunakan metode kontrol kualitas dalam pelaksanaannya. Kontrol kualitas/quality control (QC) dilakukan terhadap proses dan produk. Proses yang dimaksud yaitu yang terdapat dalam proses bisnis produksi IG yang dituangkan dalam bentuk Kerangka Acuan Kerja (KAK). QC terhadap proses bisnis dilakukan melalui kegiatan supervisi.

Pada kegiatan supervisi dilakukan verifikasi 4M (man, method, material, machine) yaitu:
Man – sumber daya manusia yang melaksanakan pekerjaan,
Method – Metode pengumpulan dan penyimpanan data,
Material – Data yang harus diolah,
Machine – Perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan.
Petugas supervisi melakukan pengarahan kepada pelaksana agar proses produksi tetap sesuai dengan KAK; sedangkan QC terhadap produk dilakukan melalui kegiatan evaluasi kualitas/quality evaluation (QE). QC produk memastikan kualitas produk sesuai dengan yang ditetapkan dalam standar produk. Keluaran dari QC produk yaitu berupa penyataan kualitas: DITERIMA/DITOLAK. QA–Production Line hanya akan menerima produk yang lolos QC (DITERIMA). Keluaran dari QA – Production Line yaitu berupa penyataan kualitas: DIJAMIN/TIDAK DIJAMIN.

QA – Publication 
Penjaminan kualitas produk untuk tujuan publikasi. Pada QA – publication ini terdapat proses Quality Evaluation (QE) dengan menggunakan data quality element dan data quality overview. Penjaminan kualitas untuk tujuan publikasi produk (QA – Publication) menggunakan metode evaluasi kualitas (Quality Evaluation/QE) dalam pelaksanaannya. Evaluasi ketelitian yang dimaksud disini adalah menentukan kualitas produk dengan metode QE berbasis ISO 19157:2013. Pada pelaksanaan QE terdapat lima elemen kualitas yang digunakan. QE dilakukan dengan menggunakan referensi pengukuran (standar kualitas).

Pada pelaksanaan QE dapat digunakan referensi pengukuran tunggal (single measure reference) atau referensi pengukuran ganda (multiple measure reference). Keluaran dari QE dengan single measure reference berupa nilai kesesuaian (conformance) ataupun nilai deskriptif. Sedangkan keluaran dari QE dengan multiple measure reference berupa nilai deskriptif dan nilai kuantitatif (grades). QA – publication terdiri dari kegiatan menentukan grade produk dan pengendalian produk cacat (defect). Keluaran dari QA – publication yaitu berupa penyataan kualitas: Grade A/B/C/Defect.

Pada penjaminan kualitas, terdapat dua jenis kualitas yaitu kualitas minimum dan kualitas aktual. Kualitas minimum merupakan kualitas produk yang dapat diterima berdasarkan standar minimum yang ditetapkan dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK). Standar minimum yang disebutkan dalam KAK mengacu pada standar produk. Kualitas aktual merupakan kualitas produk sebenarnya yang didapat dari hasil kontrol kualitas, ataupun juga dari evaluasi kualitas. Kualitas sebuah produk dapat dijamin ketika kualitas aktualnya sama atau lebih baik dari kualitas minimum yang ditetapkan.

Senin, 31 Oktober 2016



Alhamdullilah, kuliah Kartografi melalui program PDITT yang diselenggarakan oleh Ditjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kem. Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi bekerjasama dengan ITB (UPT e-Learning) telah dimulai tanggal 1 November 2016 dengan jumlah 55 peserta dari beberapa PTN dan PTS, yaitu Univ. Muhammadiyah Surakarta (34), Univ. Muhammadiyah Gorontalo (6), Univ. Negeri Padang (1), Univ. Negeri Malang (5), Institut Teknologi Padang (7), Univ. Islam Riau (1), UNS Surakarta (1).


Senin, 25 Juli 2016


Alhamdullilah, buku Kartografi Edisi 2 (tahun 2016) telah diterbitkan oleh Penerbit ITB. Bagi yang berminat silahkan kontak Penerbit ITB di itbpress@penerbit.itb.ac.id Terima kasih.


Senin, 29 Juni 2015


PETA TEMATIK


Peta tematik adalah peta yang memperhatikan informasi kualitatif dan atau kuantitatif dari suatu unsur tertentu. Peta tematik adalah sebuah  peta khusus dirancang dan disajikan untuk menunjukkan tema tertentu yang terhubung dengan area  geografis tertentu. Peta ini bisa menggambarkan fisik, sosial, politik, budaya, ekonomi, sosiologi, pertanian, atau aspek lain dari sebuah kota, negara, wilayah, bangsa, atau benua. Sebuah peta tematik adalah peta yang berfokus pada tema atau subjek daerah tertentu, sedangkan peta topografi semua fenomena alam secara teratur disajikan bersama-sama.

Tujuan utama peta tematik adalah untuk secara spesifik mengkomunikasikan konsep dan data. Sebagai contoh peta tematik yang biasa digunakan dalam perencanaan termasuk peta kadastral (batas pemilikan), peta zona (yaitu peta rancangan legal penggunaan lahan), peta tata guna lahan, peta kepadatan penduduk, peta kelerengan, peta geologi, peta curah hujan dan peta produktivitas pertanian. Unsur-unsur tersebut ada hubungannya dengan detail topografi yang penting. Pada peta tematik, keterangan disajikan dengan gambar, memakai pernyataan dan simbol-simbol yang mempunyai tema tertentu atau kumpulan dari tema-tema yang ada hubungannya antara satu dengan lainya.

Pada pembuatan peta tematik, peta dasar yang digunakan adalah peta topografi. Perbedaan antara peta tematik dan peta topografi adalah jika pada peta topografi disajikan antara lain bentang alam, unsur transportasi, unsur perairan, pemukiman yang sesuai dengan keperluan pengguna peta,  maka pada peta tematik unsur-unsur topografi tertentu saja yang ditampilkan misalnya garis pantai, batas administrasi, jalan utama, sesuai dengan tema peta yang disajikan.

Peta tematik menekankan variasi spasial  dari satu atau sejumlah kecil distribusi geografis. Distribusi ini mungkin fenomena fisik seperti iklim atau karakteristik manusia, contohnya kepadatan penduduk dan masalah kesehatan. Pada peta tematik, suatu lokasi menjadi sangat penting karena  dapat memberikan dasar referensi mengenai akan terjadinya fenomena yang dipilih. Peta tematik melayani tiga tujuan utama, yaitu:
  • memberikan informasi spesifik tentang lokasi tertentu;
  • memberikan informasi umum tentang pola geospasial;
  • dapat digunakan untuk membandingkan pola pada dua atau lebih peta.

Sebagai contoh adalah peta data demografis seperti peta kepadatan penduduk. Pada saat merancang peta tematik, kartografer harus menyeimbangkan sejumlah faktor agar dapat secara efektif mewakili data. Selain akurasi geospasial, dan estetika, kebiasaan persepsi visual manusia dan format presentasi harus diperhitungkan. 

Pengguna peta juga perlu diperhatikan karena sama pentingnya dengan peta yang akan dibuat. Siapa yang akan menggunakan atau membaca peta tematik, dan untuk tujuan apa peta tersebut dibuat, akan membantu menentukan bagaimana peta tematik harus dirancang. Pengguna peta tematik beragam, bisa ilmuwan politik, ahli biologi, ahli perencana, ahli keehatan, ahli ekonomi, sehingga pemilihan jenis peta tematik dan disain visualisasinya sangat perlu diperhatikan, supaya peta tematik yang dibuat dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.

Peta tematik antara lain dapat membantu secara umum perencanaan suatu daerah, administrasi, manajemen, perusahaan-perusahaan swasta, pendidikan, perencanaan militer. Selain itu pembuatan peta tematik berhubungan erat dengan perkembangan ilmu pengetahuan terutama dalam bidang geografi, geologi, pertanahan, perkotaan, teknik sipil, pertambangan dan bidang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan masalah sosial dan ekonomi. Untuk pembuatan peta tematik, diperlukan pengetahuan kartografi dan statistik, yang merupakan pengetahuan dalam membaca dan menggunakan peta serta cara-cara perhitungan yang banyak digunakan dalam representasi data statistik.

Suatu peta tematik dapat terdiri dari satu tema (peta analisis), misalnya peta Tanah, peta Geologi, Peta Kelas Lereng; atau dapat juga terdiri dari dua tema atau lebih yang mempunyai kaitan atau relevansi (peta multi-tema), misalnya peta Areal HPH yang berisi informasi tentang batas areal HPH, nama HPH, serta batas-batas fungsi hutan. Peta sintesis adalah peta hasil perpaduan atau gabungan beberapa peta tematik, yang setelah diadakan skoring berubah menjadi peta dengan sebuah tema baru, sebagai contoh peta Iklim, peta Geomorfologi, peta Kemampuan Lahan.

Pembuatan Peta Tematik

Proses pembuatan peta tematik akan melibatkan aktifitas penyiapan peta dasar, pengumpulan data, disain simbol, disain isi peta, disain tata letak peta, cara evaluasi peta. Pemilihan sumber data untuk peta tematik disesuaikan dengan maksud dan tujuan pembuatan peta serta keadaan medan yang dihadapi. Terdapat beberapa sumber data yang digunakan pada pemetaan tematik yaitu dengan pengamatan langsung di lapangan, dengan penginderaan jauh atau dari peta yang sudah ada (peta dasar).  

Proses Pembuatan Peta Tematik

Pembuatan suatu peta tematik seperti halnya pembuatan peta topografi, sebelumnya perlu dilakukan sebuah perencanaan yang meliupti:
-     pendefinisian maksud dan tujuan pembuatan peta tematik bersama dengan pemesan atau pengguna peta;
-     penentuan topik yang dipilih untuk peta tematik yang akan dibuat;
-     perencanaan format hasil akhir peta tematik yang akan dibuat.

Sesudah perencanaan pembuatan peta tematik terdefinisi dan topik peta tematik sudah ditentukan, maka tahap pembuatan peta tematik berikutnya adalah analiss data yang meliputi pengumpulan data dan analisis hasil pengumpulan data.

Pengumpulan data merupakan tahap permulaan dalam proses pembuatan peta tematik. Kekuatan pada peta tematik adalah kesediaan data yang dapat dipercaya, lengkap, serta akurat. Data yang diperoleh haruslah mempunyai lokasi dengan penyebaran/distribusi geografis yang memadai. Data yang diperoleh adalah hasil survey terbaru sehingga mempunyai daya guna yang optimal. Pada pengumpulan data perlu memperhatikan:
·         sumber data yang digunakan, yaitu:
-     data pokok, data yang menjadi tujuan penelitian;
-     data bantu, data yang mungkin akan digunakan sebagai pendukung dalam analisis peta selanjutnya;
-     data primer, data yang langsung dikumpulkan di lapangan dengan cara pengumpulan data lengkap;
-    data sekunder, data yang diperoleh/dikumpulkan dengan mencatat data pada instansi resmi, baik pemerintahan maupun swasta yang mempunyai wewenang dalam bidangnya terkait dengan tujuan penelitian.
·         macam data
·         cara memperoleh data

·         evaluasi dan analisis data

Data yang diperoleh seperti tersebut diatas akan disajikan pada peta tematik dalam bentuk simbol kualitatif dan/atau kuantitatif sesuai dengan aturan atau pemilihan simbol yang berlaku pada kartografi.

Pada pengumpulan data ini, perlu disiapkan peta dasar topografi yang akan digunakan sebagai data dasar (peta kerangka) untuk pembuatan peta tematik. Pada peta topografi tersebut perlu dilakukan proses generalisasi sesuai dengan unsur yang diperlukan pada peta tematik yang akan dibuat. Unsur-unsur penting pada peta topografi yang akan digunakan sebagai peta kerangka untuk pembuatan peta tematik antara lain unsur-unsur:
-      koordinat geodetik dan atau koordinat proyeksi dalam bentuk gratikul atau grid;
-      pola aliran sungai
-      pemukiman
-      transportasi
-      batas administrasi
-       nama-nama geografi
Unsur-unsur topografi yang disajikan pada peta tematik perlu dicantumkan sumber data/petanya.

Pada pembuatan peta tematik, data statistik merupakan angka-angka yang menunjukkan karakteristik tertentu. Angak-angka tersebut sangat banyak sehingga perlu disusun atau dikelompokkan dalam bentuk kelas interval. Model pengelompokkan dalam kelas interval adalah merupakan salah satu jenis generalisasi data. Pemilihan kelas interval disesuaikan dengan data yang akan dipetakan, sehingga memudahkan untuk membuat suatu visualisasi pada peta tematik.  

Di dalam pemilihan kelas interval, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
  1. Luas persebaran data yang hendak dikelompokkan dari data yang terkecil sampai yang terbesar (diurutkan), sehingga data tidak ada yang terlewatkan;
  2. Jumlah individu atau keadaan yang hendak dikelompokkan; jumlah data = n.
  3. Jenis-jenis atau keterangan yang hendak dikelompokkan tegantung permintaan pengguna peta.
Di dalam pemilihan suatu kelas interval, yang harus diperhatikan adalah:
-          pemilihan kelas interval harus meliputi semua data;
-          kelas interval tidak boleh berulang (overlap);
-          semua kelas interval harus terpenuhi (tidak ada yang terlewat);
-          pembagian data diatur sedemikian rupa melalui pengamatan yang relatif sama;
-          mempunyai hubungan matematik yang sederhana.

Adapun susunan dari kelas-kelas interval yang digunakan untuk menempatkan data ke dalam kelas dapat dibedakan atas:
-          kelas interval teratur (tingkatan sama);
-          kelas interval berdasarkan hitungan;
-          kelas interval tidak teratur.

Macam metode klasifikasi data statistik dapat dibedakan atas:
-          sistem kelas interval teratur, I=range/K
-          sistem kelas interval aritmatik, A + X + 2X + 3X + … = B
-          sistem kelas interval geometrik,  B = AXn
-          sistem kelas interval kuantiles, X = ∑ DATA/∑ KELAS
-          sistem kelas interval dispersal graph.

Selain memastikan data peta tematik adalah akurat, ada berbagai cara untuk menggunakan data dan masing-masing harus dipertimbangkan dengan tema peta tematik yang akan dibuat. Sebagai contoh, pemetaan univariat adalah peta dengan satu jenis data yang memperlihatkan terjadinya satu jenis aktivitas; proses ini baik untuk pemetaan curah hujan suatu lokasi. Pemetaan bivariat menunjukkan distribusi dari dua set data dan model korelasi, sebagai contoh jumlah curah hujan relatif terhadap suatu data ketinggian. Pemetaan multivariat adalah visualisasi dengan dua atau lebih set data; sebuah peta multivariat bisa mempresentasikan curah hujan, ketinggian, dan jumlah relatif vegetasi.

Tahap selanjutnya pada proses pembuatan peta tematik sesudah dilakukan analisis data, adalah visualisasi yang meliputi pembuatan disain peta, dan media yang akan digunakan untuk hasil akhir. Pengertian disain peta disini adalah pemilihan simbol peta yang akan disajikan pada peta tematik, serta bagaimana tata letak peta tematik yang akan dihasilkan. Pada umumnya tata letak peta tematik berbeda dengan tata letak peta topografi. Jika pada peta topografi tata letak peta umumnya terdiri atas muka peta, informasi tepi dan batas peta selalu pada area yang berbeda, maka tata letak peta peta tematik, muka peta informasi peta dapat dalam satu area yang sama atau pada area yang berbeda.


Tata Letak Peta Tematik

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam membuat tata letak peta tematik, antara lain:
  • penentuan tata letak peta dan komposisi peta harus mempertimbangkan cara-cara yang dapat menyentuh perasaan tertarik (sensible) dan menarik.
  • faktor utama yang harus diperhatikan adalah keseimbangan (balance) tata letak informasi tepi, ukuran dan tipe huruf.
  • komposisi peta-peta seri yang direncanakan untuk dibuat perlu berkesinambungan sehingga antara seri-seri peta dapat terhubung satu sama yang lain. 
Kandungan isi peta tematik harus terkait dengan tujuan pembuat peta. Pada peta tematik terdapat tiga macam isi yaitu:
  1. isi utama adalah isi yang menjadi tujuan utama pembuat peta.
  2. isi kedua adalah peta dasar yang menjadi acuan pembuat peta.
  3. isi pendukung adalah informasi tepi peta.
Pada saat ini penyajian suatu peta tematik bisa menggunakan media kertas dalam bentuk peta cetak atau menggunakan media dijital yang hasil akhirnya bisa dalam bentuk soft copy atau juga visualisasi pada media internet.

Jenis Peta Tematik

Peta tematik mempunyai beberapa jenis tergantung dari maksud dan tujuan pembuatan peta tematik.
-          peta diagram
Pada peta diagram, dua atau lebih subyek tematik yang berelasi disajikan dalam bentuk diagram yang proporsional. Diagram yang disajikan dapat dalam bentuk diagram batang, lingkaran, empat persegi panjang, diagram kurva. Masing-masing diagram disajikan pada posisi dari suatu lokasi atau dipusat area, yang memberikan informasi tentang keberadaan data yang diberikan pada diagram bersangkutan.

Tinggi rendahnya atau besar kecilnya diagram  menyatakan suatu besaran dari data kuantitaif yang diberikan oleh data, sedang warna yang digunakan menyatakan jenis data lain yang berhubungan dengan data bersangkutan.


 Peta Diagram

Contoh, Peta Jumlah Penduduk, tinggi rendahnya diagram menyatakan jumlah penduduk, sedang warna yang digunakan untuk menyatakan jenis penduduk, pria dan wanita.

-          peta distribusi (dot distribution maps)
Suatu peta tematik yang menggunakan simbol titik kuantitatif untuk menyajikan suatu data yang spesifik, serta mempunyai kuantitas yang pasti dari sejumlah variabel. Satu titik (dalam bentuk simbol) memberikan suatu nilai tertentu, sehingga jika pada suatu area di peta bersangkutan terdapat 10 titik, maka akan menginformasikan bahwa pada daerah tersebut terdapat 10 kali nilai dari titik bersangkutan. Salah satu contoh peta distribusi adalah peta Penyebaran Penduduk yang penyajian sebaran titiknya dapat dibedakan atas penyebaran secara administratif dan geografis.


Peta Distibusi

         -   peta choropleth
Peta choropleth adalah peta yang menggambarkan data kuantitatif dalam bentuk warna dan bisa menunjukkan kepadatan, persentase, nilai rata-rata atau kuantitas dari suatu peristiwa dalam wilayah geografis. Warna berurutan pada peta ini mewakili peningkatan atau penurunan nilai-nilai positif atau negatif data; biasanya, setiap warna juga mewakili rentang nilai. Peta choropleth menyajikan ringkasan distribusi kuantitatif dengan basis deliminasi area. Data kuantitaif yang diberikan merupakan besaran suatu data yang berkaitan dengan deliminasi area tertentu, misalnya batas administrasi. Salah satu contohnya adalah peta Kepadatan Penduduk per km2 .

Pemetaan Choropleth menunjukkan data statistik dikumpulkan lebih dari daerah yang telah ditetapkan, seperti kabupaten atau negara, dengan pewarnaan atau bayangan pada daerah bersangkutan. Teknik ini mengasumsikan distribusi relatif bahkan fenomena yang diukur dalam setiap wilayah. Secara umum, perbedaan warna yang digunakan untuk menunjukkan perbedaan kualitatif, sedangkan perbedaan saturasi atau ringan yang digunakan untuk menunjukkan perbedaan kuantitatif, seperti populasi. Pada peta Kepadatan Penduduk, terdapat data dan informasi kepadatan penduduk per km yang disajikan dengan warna; semakin tua/gelap warna yang digunakan berarti kepadatan penduduknya semakin tinggi. Pada setiap area yang berwarna diberiakan informasi nama lokasinya.


Peta Choropleth

-          peta dasymetrik
Peta tematik sejenis choropleth, tetapi basisnya bukan pada batas administrasi, melainkan pada batas dari area yang di survey. Pada peta dasymetrik, penyajian deliminasi area didasarkan pada daerah yang disurvey dan bukan batas administrasi. Hasilnya bisa berbeda dengan peta choropleth khususnya pada areanya; peta sebelah kiri berdasarkan deliminasi administrasi, sedang peta sebelah kanan deliminasi berdasarkan hasil survey.


Peta Dasymetrik

Sebuah peta dasymetrik mirip dengan peta choropleth, tapi satu daerah tidak ditentukan melainkani dipilih, sehingga distribusi fenomena diukur dalam setiap wilayah relatif seragam. Batas-batas mungkin jauh lebih jelas dari peta isarithmi, misalnya suatu aturan perencanaan dapat menyebabkan daerah yang berdekatan di peta dasymetrik, kepadatan populasi menjadi homogen secara internal tetapi ekstrem pada daerah yang berlawanan. Peta ini lebih sulit untuk mendapatkan hasil yang optimal dan kurang umum dibandingkan jenis peta tematik lainnya.

-          peta chorochromatik
Peta tematik yang memperlihatkan distribusi kualitatif dari fenomena spesifik dan relasinya; contoh, peta tanah (soil map). Pada peta Tanah ini, semua jenis tanah yang ada pada daerah bersangkutan disajikan berdasarkan areanya dengan menggunakan warna yang berbeda-beda. Warna muda dan warna tua yang digunakan untuk simbol jenis-jenis tidak mempunyai suatu harga tertentu karena sifatnya yang kualitatif.


Peta Chorochromatik

-          peta isoline
Peta tematik yang memperlihatkan harga numerik untuk distribusi yang kontinyu, dalam bentuk garis-garis yang terhubung pada suatu harga yang sama, atau dengan perkataan lain,  setiap garis menghubungkan titik-titik yang mempunyai harga yang sama. Contohnya adalah peta Isobar, peta yang menghubungkan daerah-daerah yang mempunyai tekanan udara yang sama; setiap garis yang menghubungkan daerah yang bertekanan udara sama diberikan sebuah angka.


Peta Isoline

-          peta alir (flow maps)
Peta tematik yang menyajikan informasi dalam bentuk garis tebal atau warna untuk memperlihatakan arah atau frekuensi pergerakan. Contoh, Peta Jalur Penerbangan (peta frekuensi penerbangan dari satu tempat ke tempat lain; setiap garis mempunyai ketebalan yang berbeda yang menginformasikan banyak sedikitnya frekuensi penerbangan dari satu tempat ke tempat yang lain, sedang warna menginformasikan nama perusahaan penerbangan.


Peta Alir

*) Tulisan diambil dari Buku KARTOGRAFI, Hadwi Soendjojo dan Akhmad Riqqi, Penerbit ITB 2012